Ketahanan Pangan Terancam, Wereng Serang Lahan Padi di Tolai

Petani Kecamatan Torue terancam tidak menanam akibat faktor biaya (FOTO:Istimewa)

PARIMO-SenderNews.id-Serangan hama wereng di Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, mulai mengancam ketahanan pangan daerah. Musim tanam kali ini, petani terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk mengendalikan hama.

Kepala Desa Tolai, I Made Gede Dipayana, mengungkapkan serangan wereng membuat petani terbebani biaya tambahan, sementara hasil panen terancam menurun drastis.

banner 970x250

“Obat hama wereng harganya Rp300 ribu sekali pakai per hektar, dan itu harus dilakukan setiap minggu. Tentu sangat memberatkan petani kami,” ujarnya, Jumat (26/9).

Ia menambahkan, tanpa intervensi pemerintah, petani berisiko mengalami kerugian besar. Bahkan, sebagian sudah mulai kesulitan membiayai perawatan lahan mereka.

“Kalau kondisi ini dibiarkan, hasil panen turun, petani merugi, dan secara otomatis memengaruhi ketahanan pangan masyarakat,” jelasnya.

Dipayana menegaskan, serangan wereng tidak bisa dianggap masalah biasa. Ia mendesak pemerintah daerah, khususnya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Parimo, untuk segera bertindak.

“Mengantisipasi program ketahanan pangan itu bukan hanya slogan. Harus ada tindakan nyata agar petani bisa tetap berproduksi,” tegasnya.

Menurutnya, petani membutuhkan langkah konkret, seperti subsidi obat hama, pendampingan teknis, hingga monitoring rutin di lapangan. Bantuan tersebut penting agar mereka tidak terus menanggung beban produksi sendiri.

Saat ini, petani di Desa Tolai masih berupaya mengatasi serangan wereng dengan modal pribadi. Setiap pekan, mereka harus merogoh kocek besar demi menjaga tanaman padi tetap hidup.

“Kami kasihan melihat saudara-saudara petani. Mereka berjuang keras, tapi hasil panen belum tentu selamat dari serangan hama,” ungkapnya.

Ia khawatir, jika tidak segera ditangani, serangan wereng akan meluas ke desa-desa lain di Kecamatan Torue, sehingga memperburuk produksi beras lokal dan berpotensi memicu krisis pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *