Petani Terancam Tak Bisa Menanam Akibat Faktor Biaya

Petani Kecamatan Torue terancam tidak menanam akibat faktor biaya (FOTO:Istimewa)

PARIMO, SenderNews.id-Sejumlah petani di Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) terancam tidak dapat menanam padi untuk musim tanam berikutnya. Kondisi itu disebabkan tingginya biaya produksi dan tidak terserapnya hasil panen sebelumnya yang menumpuk di sejumlah gilingan.

Penumpukan gabah dan beras terjadi karena minimnya pembeli setelah akses penjualan ke luar daerah seperti Sulawesi Utara dan Gorontalo tertutup. Padahal, kedua daerah tersebut selama ini menjadi pasar utama beras petani Torue.

banner 970x250

“Sekarang beras sudah menumpuk, tidak ada yang beli. Kami rugi besar karena biaya tanam sebelumnya juga belum tertutup,” keluh Made Dirga, Petani Kecamatan Torue, Senin (20/10).

Ia mengatakan, sebagian petani bahkan menunda penggilingan gabah karena khawatir tidak ada tempat penyimpanan. Sementara, jika gabah tidak segera digiling, kualitasnya bisa menurun dan berisiko rusak.

“Kalau kami terus rugi, dari mana mau ambil modal untuk tanam lagi? Semua butuh biaya: bibit, pupuk, bahan bakar traktor, semuanya naik,” tambahnya.

Petani lainnya, Sukami, mengaku kecewa karena pemerintah lebih mengutamakan penjualan beras subsidi dari Bulog ketimbang memperhatikan hasil panen petani lokal. Kondisi itu membuat harga beras petani sulit bersaing di pasar.

“Beras Bulog dijual murah di pasar, sementara beras kami tidak laku. Akhirnya kami tidak punya penghasilan,” ujarnya.

Kebijakan yang tidak berpihak ini membuat banyak petani berpikir untuk berhenti sementara dari aktivitas pertanian. Mereka menilai bertani kini bukan lagi pekerjaan yang menjanjikan karena tidak ada jaminan pasar.

“Kami tidak minta disubsidi, tapi tolong dibantu carikan pembeli. Kalau tidak ada yang mau beli, percuma kami kerja di sawah,” keluhnya.

Selain masalah pasar, petani juga menghadapi beban biaya tambahan untuk penyimpanan dan pengeringan gabah. Akibatnya, sebagian terpaksa menjual dengan harga murah hanya untuk menutupi sebagian modal.

Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera turun tangan membantu mencari solusi. Langkah yang bisa dilakukan antara lain membuka kembali jalur distribusi antarprovinsi atau mendorong kerja sama antara petani dan pembeli di luar daerah.

“Kami hanya ingin pemerintah mendengar suara kami. Jangan biarkan sawah-sawah di Torue terbengkalai karena petani tak sanggup lagi menanam,” pungkasnya.

Penulis: TriEditor: Mawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *