Setelah Tragedi 2021, Tambang Emas Buranga Masih Makan Korban

FOTO:Ilustrasi

PARIGI, Sendernews.id—Tragedi longsor tambang emas kembali terjadi di Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong. Insiden ini menegaskan bahwa peristiwa memilukan pada 24 Februari 2021, yang menewaskan tujuh penambang, belum menjadi pelajaran serius.

Pada Rabu malam (12/2/2026) sekitar pukul 22.15 WITA, seorang penambang bernama Aco (31) dilaporkan tertimbun longsor di lokasi galian tambang emas Desa Buranga. Saat kejadian, korban tengah mengambil material di dinding tebing lubang tambang bersama seorang rekannya.

banner 970x250

Berdasarkan keterangan di lokasi, longsor terjadi secara tiba-tiba dari bagian atas tebing galian. Rekan korban berhasil menyelamatkan diri, sementara Aco tertimbun material tanah dan bebatuan.

Sekitar lima menit pascakejadian, para penambang melakukan pencarian dengan menggali material longsor menggunakan alat berat. Korban kemudian ditemukan dan segera dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Namun, setelah mendapatkan penanganan medis, korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 22.30 WITA. Jenazah selanjutnya dibawa pihak keluarga ke rumah duka di Desa Buranga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lubang tambang yang mengalami longsor tersebut diduga dikelola oleh seorang pendana bernama Dona.

Kasi Humas Polres Parimo, IPTU Arbit, membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan lokasi kejadian telah diamankan. Namun, proses pemeriksaan lanjutan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Untuk sementara lokasi sudah kami amankan. Pemeriksaan praktis belum memungkinkan karena pihak keluarga masih berduka. Langkah lanjutan akan dilakukan setelah situasi memungkinkan,” ujar IPTU Arbit saat dihubungi, Jumat (13/2).

Ia menambahkan, jumlah korban masih dalam pendataan. “Saat ini satu orang dinyatakan meninggal dunia. Untuk kemungkinan korban lain masih menunggu hasil pemeriksaan dan pendataan di lapangan,” katanya.

Tak jauh dari lokasi kejadian, aktivitas tambang emas ilegal juga dilaporkan berlangsung terbuka di Desa Tombi, sekitar 15 menit dari Desa Buranga. Kegiatan tersebut bahkan menggunakan alat berat dan berada dekat dengan permukiman warga.

Kondisi ini membuat warga resah karena risiko longsor dan pencemaran sumber air bersih kian nyata. Sejumlah titik galian disebut berada di kawasan yang selama ini menjadi sumber air utama masyarakat.

“Lokasinya sangat dekat dengan rumah penduduk. Getaran dan suara mesin terdengar jelas, bahkan hingga malam hari,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

“Kami khawatir dampaknya bukan hanya sekarang, tapi juga untuk jangka panjang,” tambahnya.
Warga mendesak aparat penegak hukum segera mengambil tindakan tegas. Penertiban dinilai mendesak karena lokasi tambang berada di zona yang beririsan langsung dengan permukiman warga.

Sementara itu, aktivis HAM dan lingkungan, Dedi Askary, menilai maraknya tambang emas ilegal telah menempatkan Parigi Moutong dalam kondisi kritis. Kerusakan lingkungan di darat disebut mulai menjalar ke wilayah pesisir dan laut.

Mantan pimpinan Komnas HAM Sulawesi Tengah itu menggambarkan kondisi pesisir Parimo sebagai “layar robek” akibat praktik ilegal berlapis. Aktivitas tambang emas ilegal di wilayah hulu disebut membawa tailing dan merkuri ke hilir hingga bermuara di Teluk Tomini.

“Ini bukan sekadar kerusakan lokal. Sedimentasi dan racun logam berat menjadi ancaman serius bagi terumbu karang, padang lamun, serta ruang hidup nelayan tradisional,” tegas Dedi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *