KADIN Parimo: Bukan Lagi Potensi, Durian Sudah Hasilkan Ekonomi Nyata

Ketua KADIN Parimo, Faradiba Zaenong, saat mempresentasikan di forum BAPPEDA se Sultang.

PARIGI, Sendernews.id— Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi di Sulawesi Tengah kini telah bergeser dari sekadar potensi menuju capaian nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Hal itu disampaikannya dalam forum koordinasi yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (1/4), di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong.

banner 970x250

Dalam forum yang dihadiri jajaran BAPPEDA kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah, perwakilan Dinas Pendidikan, Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah, pelaku usaha hingga petani tersebut, Faradiba menekankan bahwa saat ini sektor ekonomi daerah telah menunjukkan hasil konkret, khususnya dari komoditas durian.

“Kita tidak lagi berbicara potensi. Hari ini kita bicara hasil. Parigi Moutong sudah menembus pasar ekspor durian dunia,” tegasnya.

Ia menyebut, KADIN memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan dunia usaha. Melalui sinergi tersebut, berbagai potensi daerah dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

KADIN Parimo, lanjutnya, juga terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program “1 Rumah 1 Pengusaha”. Program ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat agar tidak hanya menjadi pekerja, tetapi mampu menjadi pelaku usaha berbasis potensi lokal.

Salah satu sektor yang kini menjadi motor penggerak ekonomi baru adalah durian. Komoditas ini bahkan telah menembus pasar internasional, khususnya Tiongkok, dengan volume ekspor mencapai puluhan ribu ton.

Pengembangan durian di Sulawesi Tengah turut didukung oleh ribuan hektare lahan produktif, ratusan ribu pohon durian montong, serta puluhan unit packing house yang telah beroperasi.

“Durian hari ini bukan lagi sekadar buah, tetapi telah menjadi instrumen ekonomi yang menggerakkan desa,” ujarnya.

Dampak ekonomi dari sektor ini pun dinilai signifikan. Perputaran uang yang sebelumnya ditargetkan mencapai Rp1 triliun, kini diproyeksikan meningkat hingga Rp3 triliun melalui aktivitas ekspor ke pasar Tiongkok.

Faradiba menegaskan, aliran dana tersebut tidak hanya berpusat di perusahaan, tetapi langsung dirasakan oleh petani dan tenaga kerja lokal.

“Ini adalah ekonomi riil yang hidup di desa dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama terkait belum optimalnya kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) akibat belum tersedianya regulasi tata niaga yang terstruktur.

“Bukan karena tidak ada potensi, tetapi karena regulasi belum hadir untuk mengikat dan mengarahkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sektor durian ini merupakan implementasi nyata dari Program 9 BERANI. Pada sektor hulu, program berjalan melalui perluasan kebun, distribusi bibit unggul, serta pendampingan petani. Sementara di sektor hilir, penguatan dilakukan melalui pengembangan packing house, pengolahan produk, hingga akses pasar global.

“Hulu sudah bergerak, hilir sudah berjalan, dan pasar sudah terbuka. Ini bukti nyata program yang sedang hidup di Parigi Moutong,” tegasnya.

Ke depan, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri, mulai dari regulasi, infrastruktur logistik, hingga iklim investasi yang kondusif.

“Dunia usaha siap bergerak cepat, namun tetap membutuhkan peran pemerintah untuk membuka jalan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, optimistis Parimo kini telah bertransformasi menjadi daerah produksi dan ekspor, bukan lagi sekadar daerah dengan potensi.

“Jika dijalankan secara kolaboratif, maka bukan hanya durian yang kita panen, tetapi juga kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *