“Hijrah adalah tentang benci dan cinta. Meninggalkan yang dibenci dan menuju kepada yang dicinta.”
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perjalanan hati menuju Allah SWT. Ia adalah proses meninggalkan segala yang dibenci oleh-Nya, lalu melangkah menuju apa yang dicintai-Nya. Dalam hijrah, ada rasa kehilangan, ada perjuangan, dan ada harapan.
Sering kali, yang ditinggalkan dalam hijrah adalah hal-hal yang dulu terasa nyaman lingkungan, kebiasaan, bahkan kesenangan. Namun seorang hamba yang sadar akan tujuan hidupnya akan memilih untuk meninggalkan itu semua, karena ia tahu bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segalanya.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat lebih besar, jika mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap pengorbanan dalam hijrah tidak akan sia-sia. Allah menjanjikan balasan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada air mata yang jatuh sia-sia ketika itu karena Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hadits ini memperluas makna hijrah. Ia bukan hanya tentang perpindahan fisik, tetapi tentang perubahan sikap, kebiasaan, dan cara hidup. Meninggalkan maksiat, menjauhi dosa, dan berusaha mendekat kepada Allah adalah inti dari hijrah yang sesungguhnya.
Hijrah juga bukan perjalanan yang instan. Ia adalah proses yang penuh naik dan turun. Terkadang iman menguat, terkadang melemah. Terkadang langkah terasa ringan, terkadang terasa berat. Namun selama hati tetap ingin kembali kepada Allah, maka itulah tanda bahwa hijrah masih berjalan.
Dalam hijrah, kita belajar membenci dosa, bukan diri sendiri. Kita belajar mencintai kebaikan, meski awalnya terasa sulit. Kita belajar bahwa meninggalkan sesuatu karena Allah akan diganti dengan yang lebih baik oleh-Nya.
Allah juga berfirman:
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta yang lain. Hijrah adalah bukti nyata dari cinta itu.
Pada akhirnya, hijrah bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus memperbaiki diri.
Bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling istiqamah. Sebab yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita mengakhiri perjalanan ini—dalam keadaan tetap berada di jalan Allah.







