Salah satu tanda kelalaian manusia adalah ketika ujian datang, ia sibuk mengeluh. Namun saat nikmat mengalir begitu deras, ia justru lupa bersyukur. Seakan-akan hidup hanya dipenuhi beban, padahal begitu banyak karunia yang telah Allah titipkan tanpa kita sadari.
Kita sering merasa hidup tidak adil saat diuji. Padahal, boleh jadi ujian itu adalah cara Allah mendekatkan kita kepada-Nya. Sebaliknya, ketika nikmat datang berupa kesehatan, rezeki, keluarga, waktu, semuanya terasa biasa saja, seolah memang sudah seharusnya kita miliki.
Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini bukan sekadar janji, tapi juga peringatan. Bahwa syukur bukan hanya ucapan, melainkan kesadaran hati yang menghadirkan ketaatan.
Begitu pula Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih bijak. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Betapa indahnya ajaran ini. Seorang mukmin sejatinya tidak pernah rugi. Dalam nikmat ia bersyukur, dalam ujian ia bersabar. Keduanya sama-sama bernilai ibadah.
Maka, sudah saatnya kita bercermin. Jangan sampai hati kita lebih cepat mengeluh daripada bersujud. Jangan sampai lisan kita lebih mudah meratapi kekurangan daripada mensyukuri kelebihan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak nikmat yang kita miliki, tapi seberapa dalam kita menyadari dan mensyukurinya.







