Reliqi  

Ketika Hati Tak Lagi Hidup: Hilangnya Penyesalan dan Kesedihan dalam Diri

FOTO:Ilustrasi

Di antara tanda matinya hati adalah ketika seseorang tidak lagi merasa sedih atas kesempatan beramal yang terlewat, dan tidak pula menyesal atas dosa yang telah diperbuat. Hati yang demikian perlahan kehilangan cahaya, karena ia tidak lagi peka terhadap kebaikan dan keburukan.

Padahal, hati yang hidup adalah hati yang selalu bergetar ketika kebaikan luput dari genggaman, dan merasa sakit ketika terjatuh dalam kesalahan. Kesedihan karena kehilangan peluang beramal bukanlah kelemahan, melainkan tanda keimanan. Begitu pula penyesalan atas dosa adalah bukti bahwa hati masih terhubung dengan Allah.

banner 970x250

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk kembali dan menyesal adalah bagian dari keberuntungan seorang mukmin. Sebab, orang yang tidak merasa bersalah atas dosanya sejatinya sedang menjauh dari pintu rahmat Allah.

Dalam ayat lain, Allah juga mengingatkan:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Hati yang mati tidak lagi mampu membedakan mana kebaikan dan mana keburukan. Ia menjadi keras, bahkan tidak tersentuh oleh nasihat sekalipun.

Rasulullah SAW bersabda:

“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menegaskan bahwa rasa menyesal adalah inti dari taubat. Ketika seseorang sudah tidak memiliki penyesalan, maka pintu taubat seakan tertutup dari dalam dirinya sendiri.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

“Jika seorang mukmin melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkannya, dan memohon ampun, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia terus menambah dosa, maka titik hitam itu akan semakin banyak hingga menutupi hatinya.”
(HR. Tirmidzi)

Betapa pentingnya menjaga hati agar tetap hidup. Jangan biarkan ia mati karena kelalaian yang terus-menerus. Hati yang hidup akan selalu mengingat Allah, merasa takut saat berbuat dosa, dan menyesal ketika lalai.

Maka, jika hari ini kita masih merasa sedih karena kehilangan kesempatan berbuat baik, dan masih menyesal ketika berbuat salah, itu adalah tanda bahwa hati kita masih hidup. Jagalah perasaan itu, karena di sanalah cahaya hidayah masih menyala.

Semoga Allah senantiasa menghidupkan hati kita dengan iman, melembutkannya dengan dzikir, dan membersihkannya dengan taubat.

Penulis: TriEditor: Mawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *