PKK Parimo Bidik Stunting dan Kematian Ibu, Siapkan Gerakan Donor Darah

PARIMO, Sendernews.id– Tim Penggerak PKK Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menyiapkan gerakan donor darah di setiap kecamatan untuk membantu memenuhi kebutuhan darah, terutama bagi ibu yang mengalami perdarahan saat persalinan dan pasien yang membutuhkan transfusi.

Rencana tersebut disampaikan Ketua TP-PKK Parimo, Hestiwati Nanga, saat sosialisasi kesehatan di Kantor Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kamis (8/10).

banner 970x250

Hestiwati mengatakan, ketersediaan darah menjadi salah satu kebutuhan penting dalam upaya menekan risiko kematian ibu. Ia menyebut perdarahan saat persalinan sebagai salah satu penyebab utama kematian ibu di Parimo.

Menurutnya, berdasarkan acuan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, kebutuhan persediaan darah mencapai sekitar 2 persen dari jumlah penduduk atau diperkirakan 9.000 kantong darah. Karena itu, ia meminta para camat membantu menggerakkan masyarakat agar berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.

“Kami mohon dukungan Bapak Camat untuk menggerakkan masyarakat turut berdonor darah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, donor darah juga memberi manfaat bagi pendonor karena darah yang disumbangkan menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi sejumlah infeksi. Namun, ia mengingatkan bahwa seseorang yang terlihat sehat belum tentu terbebas dari penyakit, termasuk HIV.

Selain persoalan ketersediaan darah, sosialisasi tersebut menyoroti pencegahan stunting melalui pemenuhan kebutuhan kesehatan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau periode Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Hestiwati menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemberian imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan anak sejak lahir. Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung pencegahan stunting.

Ia juga mengingatkan ibu hamil agar menjalani skrining triple eliminasi, yakni pemeriksaan HIV, sifilis, dan hepatitis B. Deteksi dini serta penanganan yang tepat dinilai penting untuk menekan risiko penularan infeksi dari ibu kepada bayi.

“Jika HIV terdeteksi sejak trimester pertama dan segera diberikan pengobatan, insya Allah bayi yang lahir bisa bebas dari HIV,” jelasnya.

Di luar isu kesehatan ibu dan anak, kegiatan itu turut membahas pencegahan pernikahan dini dan penyalahgunaan narkoba. Hestiwati menegaskan, edukasi kesehatan perlu menjangkau masyarakat hingga tingkat keluarga agar informasi yang diterima dapat mendorong perubahan perilaku.

Ia meminta data kasus stunting dan tuberkulosis (TBC) dipetakan hingga tingkat desa. Data tersebut diperlukan agar pemerintah dan pihak terkait dapat menentukan sasaran intervensi sesuai kondisi masyarakat di masing-masing wilayah.

Kegiatan yang dihadiri camat dari Parigi Utara, Parigi Tengah, dan Siniu serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) itu diharapkan memperkuat koordinasi lintas wilayah dalam meningkatkan kesehatan keluarga di Parimo.

Penulis: TriEditor: Mawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *