PETI Tombi Kian Masif, 12 Alat Berat Diduga Beroperasi di Kawasan Hutan

FOTO:Ilustrasi

PARIGI, Sendernews.id — Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Tombi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, kian masif dan mengkhawatirkan. Sedikitnya 12 unit alat berat diduga telah beroperasi dan berpotensi masuk ke kawasan hutan, berdasarkan laporan masyarakat serta pemantauan Satuan Tugas Penegakan Hukum Lingkungan (Satgas PHL).

Sekretaris Satgas PHL Parimo, Muhammad Idrus, mengungkapkan bahwa informasi tersebut diperoleh dari laporan warga dan hasil pemantauan lapangan yang dilakukan dalam beberapa pekan terakhir. Meski begitu, pihaknya masih melakukan verifikasi titik koordinat untuk memastikan secara pasti apakah aktivitas tambang ilegal tersebut berada di dalam kawasan hutan.

banner 970x250

“Alat berat sudah naik sekitar 12 unit. Memang belum terlihat penarikan bucket ke atas, tetapi indikasinya kuat ada aktivitas. Dari laporan masyarakat, kemungkinan besar memang masuk kawasan hutan,” ungkapnya Minggu (15/2)

Ia menegaskan Satgas PHL tidak tinggal diam dan telah melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum (APH), termasuk Gakkum Kehutanan. Namun, rencana penindakan terhadap aktivitas PETI tersebut dilakukan secara tertutup guna mencegah kebocoran informasi.

“Langkah penindakan sudah terjadwal, tetapi tidak bisa dipublikasikan. Jika sampai bocor, dikhawatirkan operasi tidak berjalan maksimal. Karena itu, langkah-langkah kami lakukan secara tertutup,” jelasnya.

Idrus juga mengakui adanya kendala koordinasi pada awal tahun ini akibat rotasi pejabat di sejumlah instansi terkait, mulai dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) hingga unsur kejaksaan. Perubahan personel tersebut membuat Satgas harus kembali membangun koordinasi dari awal.

“Banyak pejabat yang pindah tugas, nomor kontak juga belum semuanya masuk dalam grup Satgas. Jadi koordinasi harus kami susun ulang. Namun, dengan APH yang membidangi, koordinasi sudah kami lakukan,” katanya.

Dalam waktu dekat, Satgas PHL Parimo berencana melakukan penarikan bucket alat berat guna memastikan titik koordinat pasti lokasi aktivitas tambang emas ilegal tersebut.

“Satu sampai dua hari ke depan kami akan tarik bucket untuk memastikan titik koordinat. Informasi aktivitas sudah kami terima semuanya,” tutup Idrus.

Sementara itu, aktivitas PETI di wilayah Kecamatan Ampibabo dilaporkan semakin meresahkan warga. Lokasi penambangan disebut berlangsung sangat dekat dengan permukiman penduduk, sehingga memicu kekhawatiran serius terkait keselamatan, kesehatan, serta kerusakan lingkungan.

Sumber resmi media ini menyebutkan, aktivitas penambangan dilakukan secara terbuka dengan lalu-lalang alat berat dan pekerja yang beroperasi hampir setiap hari.

“Lokasinya sangat dekat dengan rumah warga. Getaran dan suara mesin terdengar jelas, bahkan hingga malam hari,” ujar sumber yang meminta namanya dirahasiakan, Jumat (13/2).

Warga mengaku resah karena potensi longsor dan pencemaran air semakin nyata. Sejumlah titik galian disebut berada di area yang selama ini menjadi sumber air bersih masyarakat.

“Kami khawatir dampaknya bukan hanya sekarang, tetapi juga untuk jangka panjang,” ungkapnya.

Selain ancaman keselamatan dan lingkungan, keberadaan tambang ilegal tersebut juga dinilai berpotensi memicu konflik sosial. Aktivitas ekonomi non-resmi tanpa pengawasan ketat dikhawatirkan membuka ruang bagi praktik-praktik pelanggaran hukum lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *