PARIMO, Sender- Banjir yang melanda Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga mengganggu akses transportasi di jalur Trans Sulawesi.
Material longsor menutup badan jalan di perbatasan Desa Peningka dan Desa Laemanta Induk. Di Desa Peningka, sebuah jembatan dilaporkan putus sehingga akses warga turut terdampak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo masih melakukan penanganan dan pendataan di sejumlah titik hingga Jum’at malam (28/8). Pemerintah daerah juga belum mendapatkan laporan adanya korban jiwa maupun warga yang mengungsi.
Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai, mengatakan kebutuhan mendesak di lokasi bencana saat ini adalah normalisasi sungai, pembersihan material longsor di jalur Trans Sulawesi, serta penyediaan air bersih.
“Data sementara yang masuk sebanyak 188 KK di tiga desa. Untuk Desa Peningka masih dilakukan pendataan,” ungkapnya.
Berdasarkan data sementara Pusdalops BPBD Parimo, sebanyak 188 KK terdampak banjir. Mereka tersebar di Desa Laemanta sebanyak 34 KK, Laemanta Utara 81 KK, dan Labuan Donggulu 73 KK.
Sementara jumlah warga terdampak di Desa Peningka belum dapat dipastikan karena proses pendataan masih berlangsung.
Banjir mulai terjadi sekitar pukul 05.30 WITA setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Kasimbar. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi permukiman warga.
Selain banjir, longsor juga terjadi dan berdampak terhadap infrastruktur serta akses transportasi. Pendataan kerusakan rumah, jalan, jembatan, serta dampak terhadap sektor pertanian dan perkebunan masih dilakukan.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD bersama pemerintah desa, TNI, Polri, masyarakat, PT Bina Kaili, dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah turun ke lokasi.
BPJN telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup jalur Trans Sulawesi. Jembatan Bailey juga dimobilisasi sebagai bagian dari upaya pemulihan akses di wilayah terdampak.
BPBD Parimo masih memperbarui data lapangan, terutama terkait dampak di Desa Peningka dan kerusakan infrastruktur maupun sektor pertanian serta perkebunan.







