PARIMO, Sendernews.id — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Parigi Moutong berlangsung meriah. Namun di balik gemerlap panggung perayaan, terselip kekecewaan dari kalangan guru yang merasa tidak dilibatkan dalam momentum penting daerah tersebut.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Parigi Moutong, Gazali, mengungkapkan bahwa dirinya bersama sejumlah guru telah mempersiapkan diri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Mereka bahkan menyiapkan pakaian khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap hari jadi daerah.
Namun hingga hari pelaksanaan, undangan yang dinantikan tak kunjung diterima.“Kami sudah siap, tapi undangan tidak datang. Rasanya sangat kecewa,” ungkapnya Jum’at (10/4)
Meski demikian, beberapa guru tetap hadir dengan tujuan mendampingi siswa yang tampil. Mereka memilih tidak menempati kursi undangan karena tidak memiliki undangan resmi, terlebih kursi telah dilabeli nama-nama tertentu.
“Kami takut duduk karena tidak ada undangan. Jadi hanya mendampingi anak-anak dari pinggir,” lanjutnya.
Gazali juga menyoroti bahwa dirinya selaku Ketua PGRI Parigi Moutong tidak menerima undangan resmi dalam perayaan tersebut. Padahal, posisi PGRI merupakan representasi organisasi profesi guru di daerah.
Selain itu, sejumlah pegawai yang kini berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi juga disebut tidak lagi dilibatkan sejak adanya pengalihan status.“Sejak kami pindah ke provinsi, setiap HUT kabupaten tidak pernah diundang lagi,” kata Gazali.
Situasi ini memunculkan harapan agar ke depan perayaan hari jadi daerah dapat lebih inklusif dan merangkul seluruh elemen masyarakat, termasuk guru dan tenaga kependidikan.Momentum hari jadi seharusnya menjadi ajang mempererat kebersamaan, bukan menimbulkan rasa terpinggirkan.
“Harapan kami, kabupaten ini milik semua masyarakat, bukan hanya segelintir orang,” pungkasnya.







