PARMO, Sendernews.id- Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) dikenal sebagai penghasil bibit durian montong terbesar di Sulawesi Tengah (Sulteng. Namun ironisnya, jumlah pohon durian di Kabupaten Poso disebut mulai melampaui, seiring masifnya penanaman beberapa tahun terakhir menggunakan bibit asal Parimo.
Fenomena ini menguatkan posisi Parimo sebagai pusat pembibitan, sekaligus menunjukkan keberhasilan transfer komoditas unggulan ke daerah lain, termasuk Poso.
Penangkar bibit Darwis mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir permintaan bibit durian montong dari Poso ke Parimo mengalami lonjakan signifikan.
“Permintaan bibit dari Poso cukup tinggi, bahkan untuk hitungan terkecil pernah mencapai sekitar 10 ribu bibit satu kali permintaan. Hampir semuanya dipasok dari Parimo,” ujarnya.
Bibit-bibit tersebut kemudian dikembangkan secara luas di berbagai wilayah di Poso, termasuk di kawasan Pendolo yang kini mulai dipenuhi pohon durian produktif.
“Kalau kita lihat sekarang di Pendolo, pohon durian sudah sangat banyak. Itu sebagian besar berasal dari bibit Parimo,” tambahnya.
Meski Parimo masih unggul dari sisi produksi dan sistem agroindustri durian, perkembangan di Poso menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Dengan semakin banyaknya pohon yang mulai berbuah, Poso perlahan muncul sebagai kekuatan baru dalam peta durian Sulawesi Tengah.
Kondisi ini menimbulkan dinamika baru, Parimo sebagai “lumbung bibit”, sementara Poso mulai menuai hasil dari ekspansi penanaman yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Poso akan menjadi pesaing serius Parimo, terutama dari sisi jumlah pohon dan produksi di masa depan.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengungkapkan bahwa populasi pohon durian terbanyak di Sulawesi Tengah bukan berada di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), melainkan di Kabupaten Poso.
“Sebenarnya Poso jumlah pohon durian terbanyak. Nanti sekarang saya buka,” ungkapnya saat meresmikan PT Pondok Durian Sulawesi, Jumat (27/3)
Ia sekaligus mengingatkan, jika peluang besar di sektor durian tidak dimanfaatkan secara serius, maka daerah lain seperti Poso dan Kota Palu siap mengambil alih pengembangan industri, termasuk pembangunan packing house.
“Jangan hambat investasi. Kalau Parimo tidak bisa memberikan jaminan, Poso dan Palu siap ambil peluang itu,” tegasnya.
Menurut dia, pembangunan packing house tidak harus terpusat di satu daerah. Ia menilai Poso memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan, mengingat jumlah pohon durian yang melimpah.
“Apakah packing house hanya bisa di Parimo? Tidak. Poso dan Palu juga siap kita buka,” pungkasnya.







