Guru Parimo Raih IPK 4,0, Jadi Inspirasi Lanjut Studi hingga Doktoral

PARIMO, Sendernews.id – Suasana ujian Pascasarjana Universitas Tadulako (Untad), Kamis (16/4), tak sekadar menjadi forum akademik. Di ruang itu, tersirat harapan tentang masa depan pendidikan di Kabupaten Parimo.

Sosok Vivin Elfitriyah, guru asal Parigi Moutong, tampil percaya diri dalam ujian tutupnya. Ia tak hanya berhasil menyelesaikan studi magister, tetapi juga meraih nilai sempurna dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,0.

banner 970x250

Capaian tersebut tak sekadar angka, melainkan menjadi pintu masuk bagi gagasan lebih besar, yakni pentingnya mendorong para guru melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3).

Ketua Program Studi Pendidikan Sains Pascasarjana Untad, Ir. Purnama Ningsih, S.Pd., M.Si., Ph.D, menilai kedekatan geografis antara Palu dan Parigi Moutong merupakan peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Jarak yang dekat ini harusnya jadi keuntungan. Untad bisa menjadi rumah bagi guru-guru Parigi Moutong untuk berkembang,” ujarnya.

Ia juga mendorong adanya kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dan Untad untuk membuka akses pendidikan lanjutan bagi para guru. Skema perkuliahan fleksibel tengah disiapkan agar guru berstatus ASN tetap dapat menjalankan tugas mengajar.

Bahkan, opsi membuka kelas khusus di Parigi Moutong mulai dipertimbangkan sebagai langkah adaptif terhadap kondisi di lapangan.

Di tengah perkembangan zaman, Purnama menegaskan bahwa gelar sarjana tidak lagi cukup. Pendidik dituntut terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan.

“Kalau pendidikan hanya sampai S1, rasanya kurang. Pendidik harus terus meng-update ilmunya ke jenjang yang lebih tinggi,” tegasnya.

Semangat tersebut tercermin dalam tesis Vivin yang mengangkat konsep lokal “kukusa”, yakni kebiasaan memungut sampah saat melihatnya. Nilai ini dinilai penting untuk ditanamkan sejak dini kepada siswa.

Ketua Dewan Penguji, Prof. Mery Napitupulu, M.Sc., Ph.D, melihat konsep tersebut memiliki potensi besar.

“Ini bisa menjadi pilot project dari Parigi Moutong. Kalau adaptif, bisa diterapkan di banyak sekolah,” ungkapnya.

Ia pun mendorong agar penelitian tersebut dilanjutkan ke jenjang doktoral, mengingat pentingnya pengembangan inovasi pendidikan berbasis kearifan lokal.

Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjuangan yang tidak mudah. Perjalanan subuh dari Parigi ke Palu menjadi rutinitas para guru yang menempuh pendidikan. Disiplin dan kebersamaan menjadi kunci utama.

“Saya kenal Bu Vivin sejak semester awal. Mereka berangkat subuh dari Parigi, tapi tidak pernah terlambat. Mereka kompak dan punya semangat belajar tinggi. Bu Vivin juga berprestasi dan punya potensi. Jangan berhenti di magister saja, lanjut sampai doktor,” ujar salah satu penguji.

Menariknya, di tengah dominasi mahasiswa muda, para guru justru menjadi sumber inspirasi. Mereka tak hanya belajar, tetapi juga memotivasi mahasiswa lain yang kerap menghadapi tekanan akademik.

Dalam ujian tersebut, selain Prof. Mery Napitupulu dan Purnama Ningsih, turut hadir dewan penguji lainnya, yakni Prof. Dr. H. Achmad Ramadhan, M.Kes, Prof. Dr. Hj. Siti Nuryanti, M.Si, Dr. Ir. Kasmudin Mustapa, S.Pd., M.Pd, serta Dr. Afadil, S.Pd., M.Si.

Kini, melalui program beasiswa “Berani Cerdas” dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi semakin terbuka.

Sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan lebih banyak guru berkompeten, demi masa depan pendidikan Parigi Moutong yang lebih baik.

Penulis: TriEditor: Mawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *