PARIMO, Sendernews.id— Tingginya angka kematian ibu dan bayi menempatkan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, sebagai daerah percontohan nasional dalam upaya percepatan penurunan kematian ibu dan anak.
Pada 2025, Parimo mencatat 10 kasus kematian ibu, angka tertinggi kedua di Sulawesi Tengah. Selain itu, terdapat 70 kasus kematian bayi baru lahir yang menjadi perhatian dalam upaya penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Atas kondisi tersebut, Bappenas dan Kementerian Kesehatan memilih Parimo sebagai lokasi piloting Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KKNPKIA) di Sulawesi Tengah.
Pemilihan Parimo mempertimbangkan sejumlah kondisi daerah, di antaranya karakteristik geografis, kapasitas fiskal serta urgensi penanganan kasus kematian ibu dan anak yang masih tinggi.
Langkah tersebut ditindaklanjuti Pemkab Parimo bersama Yayasan IPAS Indonesia melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) KIA dan Kerangka Kerja Daerah (KKD) KIA untuk periode 2027–2031. Penyusunan berlangsung di Bappelitbangda Parimo, Kamis (1/10/2026).
Kepala Bappelitbangda Parimo, Irwan, mengatakan RAD KIA harus menghasilkan program yang aplikatif dan dapat dilaksanakan setiap perangkat daerah, bukan sekadar dokumen perencanaan.
“Dalam RAD nantinya, tidak lagi bersifat umum, jadi harus aplikatif dan siap dilaksanakan. Indikatornya harus jelas,” ujar Irwan.
Ia mengatakan, pemerintah juga perlu mengubah pendekatan dalam menangani persoalan kesehatan ibu dan anak. Menurutnya, masyarakat tidak boleh terus ditempatkan sebagai pihak yang disalahkan, tetapi pemerintah harus berinovasi untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas adat terpencil.
Penyusunan RAD KIA akan menggunakan analisis karakteristik wilayah Selatan, Tengah dan Utara Parimo. Prosesnya melibatkan masyarakat melalui lokakarya dan diskusi kelompok terarah atau FGD dari tingkat desa hingga kabupaten.
Sejumlah persoalan turut menjadi perhatian, termasuk angka perkawinan anak yang mencapai 13,49 persen pada 2024 dan cakupan pemeriksaan kehamilan atau ANC enam kali yang baru mencapai 44,25 persen. Akses sanitasi dan air minum layak juga masih menjadi tantangan.
Pada 2025, eklamsia menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu. Sementara pada kematian bayi, gangguan respirasi dan kardiovaskular tercatat sebagai penyebab yang dominan.
Konsultan IPAS Indonesia, Nur Safitri Lasibani, mengatakan penyusunan RAD KIA harus melibatkan berbagai pihak agar muncul rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam pelaksanaannya.
“RAD ini disusun secara partisipatif agar tercipta rasa kepemilikan oleh multipihak dan lintas sektor. Fokus utama kita adalah memastikan program prioritas dan alokasi anggaran KIA benar-benar masuk dalam APBD 2027,” jelasnya.
Untuk memastikan rencana tersebut berjalan, Pemkab Parimo dan IPAS Indonesia mengawal integrasi program KIA ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah 2027. Pemkab juga telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (TP2AKIA).
Tim tersebut akan mengoordinasikan program lintas perangkat daerah, melakukan pemantauan pertengahan tahun dan evaluasi capaian tahunan. Langkah itu diarahkan untuk memastikan upaya penurunan kematian ibu dan anak berjalan berbasis data serta dapat diterapkan hingga ke tingkat masyarakat.







