Penulis: Moh. Taufan
Di balik alunan bambu yang tipis dan meliuk, tersimpan nada-nada magis yang telah menuntun tradisi masyarakat Sulawesi Tengah selama berabad-abad. Lalove Adalah alat musik tiup tradisional, ia adalah perantara spiritual, penawar duka, serta jembatan penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Seni Budaya pun tidak cukup hanya dipentaskan. Ada pengetahuan yang tidak boleh berhenti menjadi ingatan. Dan ada kisah para pelaku budaya yang perlu ditulis sebelum waktu perlahan menghapus jejaknya.
Semangat itulah yang melatarbelakangi lahirnya karya buku dan Film “Lalove Untuk Anak Negeri – Maestro Lalove”
Sebuah karya dokumentasi kebudayaan yang ditulis oleh Pelaku Budaya Parigi Moutong, Moh. Taufan dan dalam waktu dekat akan diperkenalkan kepada publik melalui Diseminasi karya, peluncuran buku, serta pemutaran film dokumenter di Kabupaten Parigi Moutong, pada akhir Oktober 2026.
Diproduksi melalui Program Dokumentasi Karya,Pengetahuan Maestro / OPK Rawan Punah dari Dana Indonesiana (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia), film ini hadir bukan hanya sebagai rekaman audiovisual, melainkan sebagai bentuk persembahan dan peninggalan (legacy) pengetahuan Maestro Lalove bagi generasi mendatang agar nafas dan gaung suaranya tidak pernah padam dari tanah Nusantara.
Karya ini menempatkan Lalove bukan semata sebagai alat musik tradisional, melainkan sebagai pintu masuk untuk membaca sebuah ekosistem kebudayaan: manusia yang menjaganya, pengetahuan yang diwariskan, nilai yang hidup di dalamnya, serta perjuangan para pelaku budaya dalam upaya mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman.
Di balik bunyi Lalove, terdapat cerita tentang manusia. Tentang tangan yang belajar. Tentang pengalaman yang diwariskan. Tentang ingatan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan tentang sebuah tradisi yang membutuhkan lebih dari sekadar pertunjukan untuk tetap hidup.
Buku yang juga satu tema Lalove Untuk Anak Negeri – Maestro Lalove hadir sebagai dokumentasi yang mencoba merekam perjalanan tersebut secara lebih dekat.
Melalui wawancara, observasi lapangan, penelusuran sumber, serta dokumentasi terhadap para pelaku tradisi, buku ini menguraikan perjalanan lalove, kehidupan para pelakunya, nilai-nilai yang menyertainya hingga persoalan pewarisan pengetahuan.
Ada 5 tokoh yang diangkat dalam pendokumentasian ini, diantaranya; Bapak Talis, Bapak Asbin, Bapak Abd. Malik (Parigi), Bapak AKSI dan Bapak SMITH (kota Palu), yang telah membesarkan dan menjaga alunan suara Lalove di tanah Kaili. Sementara Narasumber diambil dari budayawan diantaranya Bapak Drs. Iksam Djorimi, M.Hum, Supratman, S.Sn serta beberapa peneliti lainnya. Sementara Buku ditulis dan disusun oleh Tokoh Literasi Parigi Moutong Bapak Maman Afriansya,S.Pd.
Ketika pengetahuan itu tidak dicatat, tidak didokumentasikan dan tidak diwariskan, maka ada kemungkinan sebagian dari pengetahuan tersebut ikut hilang bersama generasinya.
Di titik inilah Film dan Buku ini menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar publikasi tentang musik tradisional. Ia adalah upaya menyimpan ingatan kebudayaan. Dari Parigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Sebuah Penghormatan untuk Para Penjaga Nafas Tradisi
Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan buku dan film kepada masyarakat, tetapi sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para pelaku budaya yang selama bertahun-tahun mendedikasikan waktu, tenaga, pengetahuan, dan kehidupannya untuk menjaga keberlangsungan giat seni musik tradisonal.
Eksibisi karya ini juga diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara karya, pelaku budaya, masyarakat, pemerintah, seniman, komunitas, akademisi, dan generasi muda.
Sebuah ruang untuk melihat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari kehidupan hari ini dan investasi pengetahuan untuk masa depan.
Buku dan Film: Dua Medium untuk Satu Ingatan
Jika buku menghadirkan pengetahuan melalui tulisan, dokumentasi dan arsip visual, maka film membawa penonton lebih dekat kepada manusia dan kehidupan di balik tradisi tersebut.
Dua medium tersebut menjadi cara yang berbeda untuk menyampaikan satu pesan yang sama: bahwa seni tradisional perlu didokumentasikan agar pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak berhenti pada satu generasi.
”Lahirnya karya ini di dukung penuh melalui program strategis Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana Tahun 2025. Saya percaya bahwa dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membuka ruang bagi proses riset, dokumentasi, penulisan, utamanya produksi film. Lahirnya karya-karya dokumenter tersebut juga membantu membangkitkan kreativitas para Sineas daerah dalam menunjukan potensi yang dimiliki sehingga dapat diterima oleh masyarakat baik lokal maupun nasional”. Ungkap Moh. Taufan dalam diskusi singkat di kediaman beliau.
Buku dan film memiliki posisi yang sangat penting. Sebab pembangunan kebudayaan tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan kegiatan. tetapi Kebudayaan juga harus ditulis. Harus didokumentasikan. Harus diteliti. Harus dibaca. Dan harus diwariskan.
Selama ini, pembicaraan mengenai kebudayaan sering kali lebih banyak berhenti pada panggung pertunjukan, festival, seremoni, atau kegiatan sesaat.
Padahal, di balik semua itu terdapat kebutuhan yang jauh lebih mendasar: pengetahuan.
Siapa para pelakunya Bagaimana sejarahnya? Apa nilai yang terkandung di dalamnya? Bagaimana proses pewarisannya? Apa yang membuat sebuah tradisi mampu bertahan? Dan apa yang membuatnya perlahan menghilang?
Seluruh rangkaian karya tersebut akan diperkenalkan kepada publik melalui eksibisi karya pada akhir Oktober 2026 di kota Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. Kemudian selanjutnya akan dipublikasikan di daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah.
Rangkaian kegiatan akan menghadirkan peluncuran buku, pemutaran film dokumenter, serta ruang diskusi dan apresiasi sekaligus pementasan Karya yang mempertemukan berbagai unsur kebudayaan.
Momentum ini sekaligus menjadi penghormatan kepada para maestro dan pelaku budaya yang selama ini berada di garis depan dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
Pada akhirnya, Lalove bukan hanya tentang musik tradisonal. Ia adalah cerita tentang ketekunan manusia menjaga tradisi. Tentang pengetahuan yang diwariskan dari tangan ke tangan. Tentang suara redap yang terus mencari ruang di tengah perubahan zaman. Dan tentang pentingnya mencatat sesuatu yang mungkin kelak tidak lagi dapat ditemui dalam bentuk aslinya.







