PARIMO, Sendernews.id— Ratusan hektare sawah di Tolai, Kabupaten Parigi Moutong, terancam gagal tanam akibat kekeringan dan minimnya pasokan air irigasi. Kecilnya debit air dari Bendungan Sausu memperburuk kondisi petani yang membutuhkan air untuk memulai penanaman padi.
Krisis air tersebut membuat sejumlah lahan persawahan kesulitan mendapatkan aliran irigasi. Jika tidak segera ditangani, petani berisiko kehilangan kesempatan tanam pada musim ini.
I Nyoman Oka Tirta, salah seorang petani di Tolai, mengaku sawah miliknya seluas dua hektare belum bisa dialiri air karena pasokan yang tersedia tidak mencukupi.
“Sudah sulit mendapatkan air. Sawah saya seluas dua hektare belum bisa dialiri, sehingga kami membutuhkan penanganan serius,” ungkapnya.
Menurutnya, petani berusaha mencari alternatif dengan menggunakan mesin pompa atau alkon untuk menarik air dari sungai. Namun, upaya tersebut tidak mudah karena ketersediaan air juga terbatas.
Persoalan semakin berat karena petani turut menghadapi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan mesin pompa. Akibatnya, upaya mendapatkan air membutuhkan biaya dan tenaga tambahan, tetapi belum tentu mampu memenuhi kebutuhan sawah.
Kondisi ini menempatkan petani pada situasi sulit. Di satu sisi, lahan harus segera ditanami agar jadwal musim tanam tidak terlewat, sementara di sisi lain pasokan air yang menjadi kebutuhan utama belum tersedia secara memadai.
Petani lainnya, I Ketut Metir, meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan kekeringan yang mengancam areal persawahan di Tolai.
“Pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan air petani, salah satunya dengan menyiapkan waduk sebagai tempat penampungan air untuk mendukung kebutuhan irigasi,” ujarnya.
Selain pembangunan sarana penampungan air, Metir menilai pemerintah perlu menyusun pemetaan kebutuhan dan rencana alokasi air tahunan (RAAT) , terutama untuk menghadapi musim kemarau.
“Harus ada perencanaan pembagian air sejak awal. Jadi, ketika musim kemarau tiba, petani tidak lagi kesulitan mendapatkan air untuk sawah,” katanya.
Persoalan tersebut membutuhkan langkah antisipasi yang terencana, mulai dari pemetaan sumber air, pengaturan distribusi irigasi, hingga penyediaan infrastruktur penampungan. Upaya itu penting untuk menjaga ketersediaan air ketika debit sungai dan bendungan mengalami penurunan.
Jika kekeringan terus berlangsung tanpa penanganan, ratusan hektare sawah di Tolai berpotensi tidak dapat ditanami. Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar musim tanam tetap berjalan dan produksi padi tidak semakin terancam.







